Sebelumnya ini adalah blog pribadi saya akan tetapi semenjak saya bergabung di Komunitas Ilalang saya rubah formatnya menjadi blog komunitas kami. Terima kasih
August 30, 2007
Go Abroad!!
August 18, 2007
Inspirational Moment

Model: A.Bahtiar's
Photographer: Rahadian Junisadek
Location: Padjadjaran university
Japanesse Language Study Center hall
Camera: Canon (I don't know the exactly type)
Calamity And Hopes in Detail






"Art is muchless important than life, but what a poor life without it"
{Anonymus}
Me and My Studio

![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
August 15, 2007
Aesthetics

Bener ga kalo estetika identik dengan filsafat seni? Jawabnya bisa benar dan bisa juga tidak. Benar, jika pengidentikan itu didasari oleh pemahaman-pemahaman umum atas adanya persamaan ruang lingkup bahasan dan subjek-subjek pengkajian dari kedua ranah filosofis tersebut. Tidak benar, justru manakala ruang lingkup keduanya yang luas dan beragam serta-merta direduksi kepada pemahaman-pemahaman kontemporer yang kerap bersifat ahistoris, pukul rata, dan cenderung malas mengungkap akar-akar distingsi antar keduanya.
Telaah Jakob Sumardjo cukup signifikan untuk mengetahui akar distingsi dari kedua bidang yang berasal dari ibu kandung yang sama, yakni filsafat. Bahwa estetika tidak lain sebagai bagian dari filsafat nilai sejajar dengan etika. Namun dalam penggolongan objeknya, estetika masuk dalam ruang lingkup bahasan filsafat manusia sejajar dengan logika, etika, dan antropologi.
Kendati begitu, tetap kerap terjadi penyamarataan bahwa estetika tidak lain dari filsafat seni, terutama sejak konsepsi keindahan tidak lagi banyak dipertahankan dalam memahami seni. Estetika bukan melulu disibukkan oleh persoalan-persoalan karya seni yang tidak selalu mesti "indah" namun ia juga nyata-nyata memerlukan pisau bedah yang lain untuk merogoh hakikat seni secara mendalam. Maka tampillah filsafat seni untuk memikul tugas demikian, dengan segumpal pertanyaan besar ontologis yang terus bergulir di sepanjang zaman: "apakah seni itu?".

Istilah "estetika" muncul pertama kali pada pertengahan abad ke-18, melalui seorang filsuf Jerman, Alexander Baumgarten. Sang filsuf memaksudkan estetika sebagai ranah pengetahuan sensoris, pengetahuan rasa yang berbeda dari pengetahuan logika, sebelum akhirnya ia sampai kepada penggunaan istilah tersebut dalam kaitan dengan persepsi atas rasa keindahan, khususnya keindahan karya seni. (Estetika berasal dari kata aistheton atau aisthetikos, Yunani Kuno, yang berarti persepsi atau kemampuan mencerap sesuatu secara indrawi). Emmanuel Kant melanjutkan penggunaan istilah tersebut dengan menerapkannya untuk menilai keindahan baik yang terdapat dalam karya seni maupun dalam alam.
Maka menjadi lumrah jika "estetika" banyak diyakini sebagai filsafat tentang nilai-nilai keindahan, sebagaimana diyakini para pendahulu di lapangan pemikiran seni sejak Yunani Kuno (500-300 SM) seperti Sokrates, Plato, Aristoteles, Plotinus, hingga pemikir di zaman kemudian seperti St. Agustinus. Bahkan pada abad 19, para penyair Romatik dan Victorian, atau bahkan kaum Transendentalis, mengusung keindahan sebagai nilai tertinggi yang diyakini setaraf dengan nilai-nilai keilahian. (Saya jadi teringat akan kata-kata Michelangelo di zaman Renessans: "Karya seni sejati tidak lain dari bayang-bayang kesempurnaan Ilahi"). Pandangan konsepsi keindahan Bernard Bosanquet dan Frank Sibley di penghujung abad tersebut, misalnya, nyata-nyata menelan semua aspek dari nilai-nilai estetika.
Seiring perjalanan waktu, konsep estetika kemudian berkembang lebih luas. Estetika bukan melulu kualifikasi atas penilaian-penilaian atau evaluasi-evaluasi belaka, melainkan pula menyangkut penelusuran sifat-sifat dan manfaat/kegunaan, ragam penyikapan, pengalaman-pengalaman, dan penikmatan atas nilai-nilai keindahan tersebut. Bahkan kemudian penerapannya tidak lagi dibatasi oleh bingkai konsepsi keindahan semata-mata. Domain estetika menjadi jauh lebih luas ketimbang sekadar penikmatan karya-karya seni secara estetik sekalipun.
Memudarnya nilai-nilai keindahan sebagai topik sentral dalam teori estetika sejak zaman Yunani hingga Idealisme Eropa abad 19, diyakini banyak kalangan sebagai dimulai oleh estetikus Italia, Benedetto Croce, pada permulaan abad 20. Croce menggeser konsepsi keindahan dengan konsep ekspresi dan mengumandangkan pandangan baru bahwa kreasi artistik dan pengalaman estetik sebagai berasal dari formula ganda; bahwa seni setaraf ekspresi setaraf intuisi, dan bahwa keindahan tak lebih dari ekspresi yang berhasil, karena ekspresi yang gagal bukanlah ekspresi. Atau menurut Melvin Rader, keindahan tiada lain dari essensi yang berhasil diungkapkan. "Ekspresi dan keindahan bukanlah dua konsep berbeda, melainkan sebuah konsep tunggal", cetus Croce.
Pemikiran Croce setidaknya telah sangat dominan mempengaruhi pemikiran-pemikiran estetika sepanjang tiga dekade. Baru kemudian orang menangkap semacam adanya paradoks: jika seni identik dengan ekspresi, dan keindahan juga identik dengan ekspresi, maka bukankah keindahan itu merupakan esensi dari seni? Namun Croce tetap kukuh pada pendirian bahwa ekspresi dan intuisi merupakan konsepsi dasar dari mana estetika bisa dipahami.
Selain Croce, pemikiran estetika yang kontras terhadap konsepsi keindahan setidaknya muncul dari dua pemikir seni amat penting di abad 20, Clive Bell dan Roger Fry, pada dekade kedua abad tersebut, yang menggeser konsepsi keindahan dengan manifestasi bentuk signifikan (significant form), yang terkesan Platonik dan terpengaruh kuat oleh filsafat moral G.E. Moore.
Selain sebagai abad pertama yang menyangkal eksistensi keindahan secara kategoris, abad 20 memang ditengarai oleh kuatnya penolakan keras seniman-seniman kreatif atas konsepsi keindahan; bukan saja dari kaum Dadais, black theatre, theatre of cruelty, bahkan kemudian kaum Pop Art dan gerakan-gerakan sejenis yang lebih kecil, melainkan juga dari kalangan seniman yang jauh lebih serius seperti pelukis-pelukis ekspresionis dan penulis-penulis drama ideologis yang merasa pencapaian keindahan bukan tujuan yang utama dari seni. Mereka lebih memilih menceburkan diri ke dalam intensifikasi pengalaman dan radikalisasi perasaan ketimbang terbuai oleh keindahan.
Pelopor awal manifesto pergerakan filsafat linguistik modern pada awal tahun 20-an, seperti C.K. Ogden dan I.A. Richards, bahkan menggunakan istilah keindahan dalam forum-forum diskusi demi menunjukkan kualitas emotif dari pergolakan batin. Dan di tahun 40-an, para penerusnya secara olok-olok mempermainkan kata beauty (keindahan) dengan booty (barang rampasan), sekadar untuk menunjukkan bahwa pernyataan apa pun yang terkait dengan keindahan atau apa pun yang dianggap indah sebagai nir-makna (meaningless). Sebuah pertentangan sengit yang sebetulnya mula pertama mencuat kuat dari kaum Realis dan Naturalis Prancis abad 19 seperti Flaubert dan Zola, tentu dalam cara yang berbeda, yang karya-karyanya dipersiapkan justru untuk membuang aspek-aspek keindahan agar visi-visi kebenaran mereka tertemukan.
TAK pelak, pembahasan tentang konsepsi keindahan dalam karya seni sekalipun kini semakin terasa problematis. Seni tampaknya telah semakin tidak memerlukan lagi menara gading yang malah berpretensi menyembunyikan mutiara hakikat di belantara realitas. Seni cenderung mau membetot kebenaran eksistensial dan eksperiensial dengan melepas topeng-topeng kepalsuan berwajah keindahan. Bahwa "keindahan" masih banyak dipakai, itu bukan melulu tujuan utama melainkan hanya sebuah cara.
Seni-seni mutakhir tampaknya akan semakin mengganggu, mengusik, menyakiti, memprovokasi bahkan memancing gundah hati. Karena realitas sesungguhnya memang lebih banyak menawarkan warna-warna kelam kehidupan setelah puncak penghambaan manusia atas rasionalitas modern hanya menghasilkan mesin-mesin perang yang memicu perseteruan tak berujung-pangkal di tengah bergelimpangannya bangkai-bangkai dehumanistik manusia. Perang Dunia I dan II menjadi salah-satu bukti terbesar yang memompa frustrasi dan depresi di tengah dekadensi.
Tonggak-tonggak peradaban dan sandaran nilai-nilai telah menjadi seperti sebongkah kepala babi busuk yang dipamerkan seorang seniman instalasi. Atau seperti semburat orgasme seorang aktor di atas panggung Dadais pada tahun 20-an di Eropa. Atau seperti bongkahan tubuh-tubuh binatang yang disembelih di atas pentas teater kaum Naturalis. Atau seperti lukisan surealis Salvador Dali, Wajah Peperangan, berupa gambar-gambar tengkorak penuh tengkorak. Atau seperti jerit hampa dan geliat tubuh mistik dari sejarah kekelaman estetika Butoh (dance of darkness) para seniman kontemporer Jepang yang meresistensi stagnasi tradisi dengan seabrek citra keindahan estetik yang membokong realitas. Seni menjadi refleksi yang mengumandangkan suara parau dari lapis-lapis kekelaman nihilistik di tengah kekosongan ontologis (ontological void) setelah sandaran-sandaran horizontal bahkan vertikal manusia (di)runtuh(kan). Konsep-konsep estetik diberangus oleh kepalan-kepalan anti-estetik seperti Monalisa yang dikasih kumis dalam karya Dadais berjudul Shaved (bercukur) Marcel Duchamp. Manusia menjadi kembara absurditas yang tak menemukan jawab apa pun setelah terbetot lubang kelam inasionalitas.
Situasi-situasi nirmakna atas ketiadaan tatanan nilai apa pun kemudian seolah-olah memaksa estetika/filsafat seni mutakhir untuk ditelaah dalam sudut pandang suram, "seperti anak terbelakang yang lahir dari sepasang orang tua glamor, yakni pokok persoalan dan disiplin estetikanya itu sendiri", seperti dikemukakan filsuf seni kontemporer Arthur C. Danto. Filsafat abad 20 bahkan telah menjadi bidang keahlian yang terlalu teknis untuk mampu menggerus dan menemukan kembali struktur-struktur paling fundamental dari pengembaraan pemikiran, bahasa, logika, dan ilmu-pengetahuan. Bahkan "pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang seni sangat tidak jelas dan tidak kena sasaran, sementara jawaban-jawabannya sangat kabur", cetus Danto. Filsuf seni kontemporer yang lain, John Passmore, menyebut situasi kemerosotan peran estetika secara akurat dengan mengedepankan istilah The Dreariness of Aesthetics (Kekeringan Estetika).
Di sudut lain, kaum Estetika Relasional (relational aesthetics/arts), seperti Michel Serres, terus menggusur esensialisme seni kepada salah-satu trend terpenting pemikiran kontemporer yang menegaskan bahwa keterikatan satu dengan lain hal adalah jauh lebih penting ketimbang hakikat makna dari sebuah obyek (karya seni) yang tinggal sendirian. "Kita tidak lagi memerlukan ontologi melainkan desmologi (desmos = link)," kata Serres. Ia ingin menekankan bahwa upaya pengkajian makna adalah hampa dan sia-sia, dan harus digantikan oleh pengkajian atas proses itu sendiri. Nilai seni tidak lagi ditentukan oleh makna-makna yang terkandung di dalamnya, melainkan oleh apa yang bisa dilakukannya, perbedaan-perbedaan apa yang bisa dirangkulnya, cetus Gilles Deleuze, karena obyek seni tidak lagi ditentukan secara material maupun konseptual melainkan secara relasional, cetus Nicholas Bourriaud.
Di atas tumpang-tindih pemikiran-pemikiran estetik demikian, memang tidak berlebihan jika pelukis Barnett Newman mencetuskan kata-kata parodi, seperti dikutip di atas, bahwa estetika (baca: filsafat seni) bagi para seniman laksana ilmu burung bagi burung-burung. Burung-burung akan selalu terbang dalam cara dan gayanya sendiri tanpa pernah perlu tahu bagaimana sih ilmu terbang untuk burung-burung? Begitu pun para seniman, mereka akan terus berkarya untuk menggali makna-makna terdalam dari realitas kehidupan dalam cara dan gayanya sendiri-sendiri. Tidak lain untuk menyuarakan gejolak-gejolak esoteris atas apa yang diyakininya sebagai kebenaran sejati, walaupun kerap terasa aneh dan konyol, tanpa harus terlalu terpengaruh oleh tumpang-tindih pemikiran-pemikiran 'orang pintar' yang menyeret seni terlalu ke wilayah diskursivitas-intelektual ketimbang intensifikasi perasaan, insight philosophy ketimbang insight aesthetic, seturut Sussanne K. Langer.
Kajian Ilmiah Senyum Monalisa
Seulas senyum pada lukisan klasik karya seniman zaman Rennaissans Italia Leonardo Da Vinci (1452 - 1519) telah mempesona begitu banyak pencinta karya seni sejak lukisan itu selesai dibuat pada tahun 1506. Orang yang pernah melihat lukisan itu secara langsung umumnya selalu teringat akan pesona senyuman yang kesannya merekah muncul pada saat orang justru tidak memusatkan tatapan penglihatannya langsung pada wajah Monalisa. Senyum itu selain mempesona sekaligus misterius bagi banyak pencita seni dan dianggap memiliki nilai transendental keagungan yang luar biasa. Salah satu orang yang pertama kali terkesan atas senyuman yang dilukiskan sebagai "memiliki nilai keagungan diluar batas sosok manusia" ("more divine than human") diungkapan oleh Giorgio Vasari, seorang kritikus seni dan penulis terkemuka yang hidup di abad XVI. Untuk memuaskan rasa penasaran akan senyuman Monalisa seorang pakar neuroscientist dari Universitas Harvard bernama Margaret Livingstone baru-baru ini telah mengungkapkan kajian ilmiah yang mengungkap rahasia dibalik senyum Monalisa pada terbitan journal Science No.17. edisi akhir tahun 2000. Setelah mengkaji dengan seksama lukisan Leonardo Da Vinci, maka Livingstone meyakinkan bahwa senyuman mempesona yang terkesan muncul selintas dengan lamat-lamat pada wajah Monalisa terjadi sebagai efek dari suatu ilusi optik. Dijelaskannya bahwa senyuman itu dapat tertangkap mata justru pada saat seseorang tidak tengah langsung memandang kearah bibir Monalisa.
Livingstone menjelaskan teorinya dari sudut struktur sistem visual manusia berdasarkan keahliannya di bidang visual processing yang terjadi pada manusia.
Penjelasan berdasar teori struktur sistem visual manusia :
Pada saat seseorang tengah memusatkan pandangan dengan pancaindera penglihatan atas suatu obyek di alam, sesungguhnya citra yang dipersepsikan manusia terbentuk dalam 2 area yang dapat dibedakan secara jelas, yakni daerah pusat pada area bidang pandangan - yang disebut fovea - yang berciri dapat membedakan warna dan kesan kontras yang amat tajam. Sedangkan bidang pandang sekeliling diluarnya - atau peripheral area - mempersepsikan pancaindera penglihatan terhadap citra hitam putih, bayang dan efek gerak. Citra ("image") suatu benda menjadi berkesan lebih baur ("blurred") jika pandangan atas peripheral area terikutkan secara keseluruhan dalam pandangan atas suatu obyek.
Dalam metoda kerja penelitiannya Livingstone melakukan scan atas reproduksi lukisan Monalisa dan menghilangkan seluruhnya ("filtered out") segala image bayang dan efek yang terdapat dalam area pandang peripheral , sehingga akhirnya lukisannya hanya menyisakan citra rincian kontras dan beda warna seperti yang lazim terlihat dalam area fovea. Sebagai akibatnya maka pandangan manusia lalu tidak dapat lagi menangkap adanya senyuman Monalisa. Ketika efek bayang diimbuhkan kembali pada lukisan persis layaknya sebagaimana pandangan manusia mempersepsikan pandangan area peripheral, maka dengan segera munculah kembali senyum Monalisa yang mempesona itu.
Terobosan kajian ilmiah Margaret Livingstone mendapat dukungan dari ahli sejarah kesenian zaman Renaissans dari Universitas Columbia yang bernama James Beck. Leonardo Da Vinci sebagai seorang seniman serba bisa pada masa Renaissans juga dikenal sebagai arsitek , pematung, selain sebagai inventor ulung yang mendahului pemikiran zamannya. Menurut berbagai penelitian atas karya-karya arsitektur atau patung zaman Rennaissans memang banyak yang mengadopsi efek ilusi optik guna menimbulkan kesan keagungan atau sakral hingga lebih mengesankan setiap orang yang memandangnya.
Namun bagi sebagian ahli termasuk diantaranya Dr. James Beck tidak sepenuhnya yakin bahwa seniman zaman Renaissans - termasuk Leonardo Da Vinci - berkarya dengan sengaja memasukkan unsur efek ilusi optik untuk membuat lukisannya lebih mempesona. Margaret Livingstone serta James Beck berpendapat efek tersebut boleh jadi awalnya terlebih dahulu tercipta dengan tidak sengaja oleh Leonardo Da Vinci.
The Struggle of Surrealism
For the automatisms the approach to the mystery of Nature is to never become conscious of the mystery, for the surrealists it is to learn from it. The Picasso camp, won the "faith" of society. The Dali camp would have to secure a dialog with the public to be able to show the individual the "surrealist way of life" or the "path of individuation" as Jung called it.
The Veristic Surrealist quest is none other than the one described by Breton as, "The cause of freedom and the transformation of man's consciousness." In the works of surrealists we find the legacy of Bosch, Bruegel, William Blake, the Symbolic painters of the Nineteenth Century, the perennial questioning of philosophy, the search of psychology, and the spirit of mysticism. It is work based on the desire to permit the forces that created the world to illuminate our vision, allowing us to consciously develop our human potential.
The Veristic surrealists of today recognize the difficulties that their movement has faced during the second half of the Twentieth Century as it attempted to become a major cultural force, like modernism had. The United States, a country in which the business community never had to share its power with the aristocracy, wholeheartedly embraced abstraction and modernism. They shared the belief of abstract artists that the chaos of action painting and automatism were expressions of freedom, and that form, subjugation and inhibition walked hand in hand.
The American art establishment looked at the image of form with mistrust until the advent of Pop Art, which glorified the imperialism of commerce, advertisement and marketing. Later, Photorealism which glorified modern life, was accepted. With these two movements Realism entered the cultural picture again. Therefore, the only historical artistic expression still in want of recognition as a cultural force in the Twentieth Century, is Veristic Surrealism.
Corridor
This is my reflections for what I've been thinking about such pilgrimages of soul. I have too much sins to count.. I don't know how many years for me to count of it all about..I wanna life 1000 years again just to make a apologize for that any kind of my sins. So I arrive here..sound like a lost consciousness stream place...to trance..and tired to escape...so silence.. emptiness..loneliness..no body see me with the other of me..couse all kinds of it appears just behind the invisible things. So scare...I just to call it with..cofuseness...calamity transcendentalist...sadness..upon sadness...
The Future of Surrealism
Contemporary Veristic Surrealists have worked for the past fifty years in silent seclusion. A renaissance of this art form will provide the world with new eternal aesthetic pleasures and reawaken the use of meaningful expression in art, so that it can once again have a dialogue with the public.
It would take fifty years for artists born after the Second World War to discover how right this method is for helping us all understand the architecture of the psyche. Those who have understood the method, who have faithfully followed the images of the subconscious and, with patience, painted and analyzed them, have a lot to teach us about the make up and interaction of the three planes of the Spiritual, the psychological, and the physical.
"The creative process, so far as we are able to follow it at all, consists in the unconscious activation of an archetypal image and elaborating and shaping the image into the finished work. By giving it shape, the artist translates it into the language of the present and so makes it possible for us to find our way back to the deepest springs of life."
- Carl Jung







